Tampilkan postingan dengan label point of view. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label point of view. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 November 2010

Curahan Hati Seorang Ayah

Hari ini, malam ini tepatnya. Di kala gue menatap layar komputer dan menjelajah dunia maya (seperti biasa) gue kedapetan seorang tamu. Masih sodara sama gue dan yah.. umurnya jauh lebih tua dari gue lah yang pasti kalau diibaratkan gue anak turunan ke-3 berarti beliau itu anak turunan ke-2 alias tingkatannya jauh di atas gue. Hmm ribet ya? Yah anggap aja beliau sodara orang tua gue. Gue panggil dia dengan sebutan om.

Om yang satu ini sebenarnya sudah sering banget main ke rumah gue. Ngajarin gue juga untuk beberapa hal, nah salah satunya tentang kehidupan! Ya, kehidupan. Melalui curahan hatinya pas lagi cerita sama gue.

Sebenernya banyak banget yang bisa dijabarin kalau gue harus cerita panjang lebar kali tinggi dst. Tapi ada satu hal yang gue dapet dari hasil perbincangan yang gue malem ini, kasih sayang. Spesifikasinya, kasih sayang seorang ayah pada anaknya.

Seorang ayah itu butuh kerja ekstra untuk hidup. Pertama, mereka (kaum ayah) harus bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Kedua, harus pinter-pinteran membagi waktu antara kerjaan dengan keluarga. Lalu, perhatikan anak! Mungkin terlihat simple. Ya, biasa banget. Emang gitu kan kerjaanya seorang ayah? ... Itu bagi yang memiliki pekerjaan. Kalau nggak?

Ini dia masalah yang berat.

Seorang ayah sudah semestinya dan sepantasnya mencari nafkah untuk keluarga dengan bekerja. Tujuannya? mencari uang untuk keperluan keluarga, ga usah yang muluk-muluk deh.. paling penting untuk makan, bayar tagihan telpon dan listrik, uang sekolah anaknya. Mungkin (lagi-lagi) terlihat sangat sepele dan biasa. Tapi, sadarkah kita kalau itu bukan hal yang gampang, kawan.

Kalau seorang pria dewasa yang memiliki satu atau lebih anak tidak mempunyai pekerjaan, bagai mana? Mudah kah untuk memenuhi hal-hal di atas? Masih ada kah sisa uang yang dapat ditabung dan untuk memuaskan diri sendiri? Kalau pun ada, apa iya cukup untuk berhari-hari. Berbulan-bulan? Ok, gue yakin ini hanya pertanyaan relatif saja. Pengandaian.

Mereka yang tidak memiliki pekerjaan tetap (pedagang asongan, tukang sapu, tukang pos, dan masih banyak lagi) harus bekerja jauh lebih keras. Pengorbananya jauh lebih besar! Bayangkan saja, seorang tukang sapu yang bekerja berjam-jam di bawah teriknya matahari berjam-jam hanya mendapat gaji puluhan ribu rupiah. Mentok yah Rp 100.000,- lah. Itu pun nampaknya gaji bulanan. Kalau saja mereka mempunyai tanggungan yang banyak.. hmm 1 orang istri dan 1 orang anak saja lah, satu bulan 30 hari. Sehari makan untuk 3 orang. Hmm apa layak gaji segitu untuk memnuhi kebutuhan hidup?

Pasti orang banyak berpikiran, "yah siapa suruh jadi tukang sapu.."

Hey! Memang ada orang yang mau kerjanya jadi tukang sapu? Mereka bekerja seperti itu ya karena mereka hanya memiliki kemampuan dan kesempatan untuk hal itu. Jadi jangan men-judge juga lah kaya gitu.. Pemilihan kalimatnya ga enak dan ga etis banget. Yah, miriplah dengan wakil kita di dewan sana. Bencana alam kok salah warganya yang tinggal di daerah itu? Ngawur banget itu orang, ngomong kok ga mikir .___. (sorry random)

Orang yang punya kerjaan aja sulit, yang ga punya juga pasti ekstra sulitnya. Tapi yah kembali lagi, semua sudah ada jalannya masing-masing. Jadi, tinggal bagaimana orang tersebut mejalaninya :)

Tapi serius, sulit. Kita sebagai anak-anak apakah pernah sadar akan hal seperti ini? Betapa sulitnya bekerja keras untuk kebutuhan keluarga. Pulang larut, atau bahkan sampai sulit bertemu dengan kita. Ayah terlalu sibuk? Hmm kehidupan metropolitan, pasti ada aja hal-hal kaya gini. Bersyukurlah kita yang masih memiliki kasih sayang seorang ayah yang masih sempet nanyain kabar kita, menegur kita kalau salah, marahin kita di saat kita memang salah, menemani kita atau paling simpelnya, masih inget dengan ulang tahun kita dan ngasih ucapan.

Oh ya, tau kah kalau lebih berat bagi seorang ayah untuk jauh dari anak perempuannya dibanding anak lelakinya? Itu fakta! Bahkan dari cerita om gue itu gue jadi ikut mikir kalau ternyata ga selamanya overprotective itu menyebalkan! Memang ga enak kalau dikekang gitu kesannya, tapi semua itu dilakukannya karena begitu besar kasih sayangnya sama kita :D

Satu hal lagi, beliau mengajarkan gue kalau sebagai anak harus selalu hormat sama orang tuanya, yah sejelek-jeleknya mereka di mata orang lain, di mata kita sekalipun (yah apa pun) kita WAJIB untuk hormat dan mengasihi mereka :)


Karena kita ada di dunia dititipkan oleh-Nya pada mereka, orang tua :)

Ini refleksi apa curhat ya? haha. Yah apa pun itu gue bener-bener terdorong buat menuliskan di blog gue soal penafsiran gue tentang hasil perbincangan sama om gue. Semoga om bisa jadi ayah yang baik ya om. Semoga juga gue dan siapa pun yang baca blog gue, khususnya postingan ini bisa menjadi anak-anak yang hormat dan mengasihi kedua orang tuanya :)

Selasa, 19 Oktober 2010

TERSERAH

Masalah 1

Q: Kok lo nge-junk di blog lo sendiri sih?

A: Sebenernya gue ga mau nge-junk di blog gue sendiri. Tapi ya terserah gue kan?


Masalah 2


Q: Gue mau makan tapi bingung antara makan kue atau nasi, padahal bentar lagi gue olahraga. Menurut lo gimana?

A: Ya.. terserah lo aja itu, kan yang makan lo.


***

Lihat kata berwarna merah di atas? Ada dua kan? Nah sebenernya kedua kata itu sama. Baik secara penulisan atau pun arti dari kata tersebut, kalau kita hanya membaca satu kata itu saja tentu memiliki arti yang sama.

Tapi coba perhatikan kedua masalah di atas! Kalau dibaca dan dicermati baik-baik pasti bisa terkesan beda maknanya.. padahal sama-sama mengekspresikan tanggapan/respon.

Gini nih..

Jadi kalau di masalah 1 itu situasinya menyangkut diri kita sendiri.
Ketika ada orang bertanya pada kita dan kita menjawab dengan kata terserah
(sehalus apa pun cara kita mengucapkannya)
Akan terkesan sangat egois.


Kenapa?

Karena saat itu juga ketika kita menggunakan kata terserah kita seolah-olah menggunakannya untuk menyanggah apa yang orang lain pikirkan terhadap sesuatu yang terjadi pada diri kita. Kalau dari masalah satu sih gini:
  • Orang lain itu kan simpati dengan kita dan bertanya mengapa kita nge-junk di blog kita sendiri, berarti kan secara tidak langsung orang itu peduli sama kita sampai-sampai dia mempertanyakan hal yang janggal tentang postingan blog kita.
  • Tapi karena kita menjawab terserah bisa jadi orang lain berpikiran kita tuh sombong banget ga mau menghargai tanggapan atau pendapat orang lain, jadi kesannya di sini kata terserah itu menunjukkan keegoisan kita.
  • Egois? Semua orang wajar kok egois karena memang dasarnya manusia memiliki sifat egois sejak dilahirkan. Tapi kalau egoisnya berlebih itu yang tidak baik.

Kalau dalam masalah 2 beda lagi nih
Kata terserah itu jadi seolah-olah menunjukkan sikap cuek kita yang masa bodo
Yah egois juga sih sebenernya


Kenapa?


Karena saat itu juga kata terserah mengekspresikan kalau kita tuh ga mau peduli dengan masalah orang lain yang sebenernya orang itu butuh saran/pendapat kita. Yah walau mungkin kita nggak bermaksud seperti itu (mungkin maksud aslinya ingin memberi kebebasan pada si empunya pertanyaan) tapi tetep aja kurang sopan kalau cuma bilang terserah, apalagi kalau nggak di kasih sedikit komentar. Misalnya lo bilang,

"menurut gue sih lo makan nasi aja soalnya kan abis ini lo mau olahraga tapi ya terserah juga sih.."


Dengan lo ngomong kaya gitu pasti orang yang nanya ke lo seneg deh soalnya lo mau care dan yah bisa dibilang mau mikirin lo, ngebantu lo, dengan hal sekecil itu. Percaya apa nggak, banyak kok orang di luar sana yang masih menghargai pendapat orang lain.. sekecil apapun pendapat yang lo kasih itu! Yah masalah keputusan dia itu sejalan sama pendapat lo apa nggak itu sih urusan belakangan.. yang penting lo udah mau ngebantu orang itu.

Pernah terpikir ga sih kalau orang minta pendapat kita itu kenapa? Terus kenapa nanya nya harus sama kita? Kenapa nggak ke orang lain aja?


Apalagi kalau sampe ada orang yang nanya ke kita tuh sampe berulang kali karena kita nggak ngejawab atau ngasih jawaban yang nggak sesuai harapan dia (iya/nggak bukannya terserah)

Itu artinya kita berarti banget bagi orang itu. Keberadaan kita diakui dan disadari. Yang terpenting kita itu dihargai :)

Orang itu percaya dengan kita, dengan pendapat kita dan pemikiran kita. Bisa juga dibilang kalau kita tuh bisa diandalkan bagi mereka. Bangga kan kalau lo bisa jadi kebanggan orang lain? Dianggap sebagai orang terpercaya apa nggak senang? Namun sayangnya kadang kita ga peka sama hal-hal sesepele ini. Mungkin bagi kita orang itu nyusahin aja karena mempertanyakan hal yang sepele banget dan kayanya ga ada hubungannya deh dengan kita. Atau lo mikir, itu kan dia yang bakal jalanin pasti dia lebih tau lah mana yang baik buat dia jadi ya coba jawab sendiri aja bisa kan?

Nah, kalau lo berpikiran gitu lo rugi!

Lo udah membuang kepercayaan orang itu.
Lo udah mengecewakan orang itu.
Lo udah berhasil mengasah sifat egois lo
Congrats for your failure way to be a good friend!

Nah nggak mau ngecewain orang lain kan?
Kurangi merespon dengan kata terserah dan coba untuk lebih peka :)

Eh eh gue belum buat PR nih sebenernya, main posting blog aja ya haha #curcol? hahaha :P
Duh kok jadi ngebahas soal terserah sih? Kenapa deh lo Ping? Ping? hahaha.. dan jawabannya:

T-E-R-S-E-R-A-H-!

Eh coba lo hitung deh ada berapa kata terserah di postingan ini?
hahaha
wkwk yah blablabla wkwk

Night all, wanna do my home work asap so see ya ;)

___________________
enjoy your day reading :)

Jumat, 15 Oktober 2010

Ocehan Pagi - Filsafat?

Pagi ini pagi yang baru, selamat pagi ...
Jelas hari ini merupakan pagi yang baru, setiap hari kan baru! haha
http://www.emocutez.com

Nevermind, tidak penting juga memperdebatkan hal sesepele dan se-tidak-jelas itu. Ngomong-ngomong soal 'memperdebatkan' dan 'hal sepele dan tidak jelas' gue jadi teringat akan buku yang sempet gue baca semalam. Judul bukunya Pengantar Filsafat.


Dari judulnya aja sebenernya udah bisa ketebak bahasannya apa. Yang jelas ini bukan buku fiksi jadi ya sarat akan ilmu pengetahuan.. dibilang ilmiah bisa, lah. Oh ya statement gue di kalimat akhir barusan itu bukan men-judge kalau buku fiksi itu nggak sarat ilmu pengetahuan, banyak kok buku fiksi yang sarat pengetahuan cuma bedanya ya kalau buku non-fiksi lebih jelas dan tuntas dalam mengupas suatu permasalahan/ide pokok pembahasannya. Jadi, pembahasannya jauh lebih akurat dan mendalam dan disertai dengan fakta yang aktual.


Baru paragraf 2 aja udah mulai berasa jadi guru Bahasa Indonesia, ya ampun haha
Yah intinya itu buku non-fiksi gitu deh
[titik]



Dalam buku itu dipaparkan kalau yang namanya filsafat itu merupakan suatu kegiatan berpikir yang rasional, sistematis dan ... *jleb* maaf saya lupa hehehe.


Intinya ya, filsafat itu merupakan cikal bakal yang namanya ilmu pengetahuan. Kalau kalian masih ingat tentang Hukum Pascal di pelajaran fisika; diagram Cartesius di pelajaran matematika; Hegel, Imanuel Kant dan John Locke yang namanya hampir selalu muncul di pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (yah.. khususnya sih pas bahasan ideologi atau hal-hal berbau tata negara dkk itu lah). Nah bisa dilihat sendiri itu baru segelintir ilmu yang kita dapat di sekolah sebagai hasil dari filsafat.


Blaise Pascal dengan hukum Pascal-nya, Rene Descartes dengan diagram Cartesius-nya, John Locke dkk dengan asumsinya terhadap hakikat negara, politik, dan hukum. Ada banyak lagi di luar sana tokoh-tokoh (filsuf) yang hasil pemikirannya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan ditanamkan melalui materi pembelajaran di sekolah.

Hey, kenapa jadi membahas filsafat gini? hahaha ok jujur gue ada sedikit umm nggak sedikit sih tapi yah lumayan banyak lah ketertarikan terhadap ilmu filsafat itu. Terlihat seru! Eh eh tulisan gue tentang filsafat di sini memang rada berantakan, jadi nanti gue bikin posting baru deh tentang apa itu filsafat dan pengaruhnya dalam kehidupan kita :)